Assalaamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Welcome to University of Indonesia!!
 |
| Balairung dan Gedung Rektorat UI. Copyright Google |
Aku keluar dari Stasiun Universitas Indonesia. Setelah sekian lama, akhirnya kakiku menginjak tanah Universitas tertua di negeri ini lagi. Pas baru keluar, langsung saja Bis Kuning atau yang biasa disebut bikun datang menjemputku. Aku menuju kos yang kebetulan sudah dipesan oleh temanku yang sudah berada disini beberapa bulan lalu. Aku kos di daerah Kukusan Teknik, biasa disingkat Kutek, letaknya di belakang kampus UI, tepatnya gerbang keluar di belakang Klinik Satelit Makara UI. Siapa tahu kamu mau mampir, silahkan.
Kali ini aku mau cerita bagaimana kondisi hidup secara kultural, sosial maupun ekonomis di Kota Depok, khususnya kawasan Universitas Indonesia. Ada beberapa perbedaan yang sangat terasa sekali dibandingkan tinggal di Nganjuk, kota kecilku tercinta yang mana tidak banyak orang tau, kecuali kusebut "dekatnya Madiun". Langsung saja, berikut beberapa poin penting yang harus diperhatikan ketika kamu ingin kesini :
1. Ramai, Padat dan Sumpek
 |
| Keramaian saat hendak naik KRL |
Bersinggungan dengan ibukota negara. Dengan penduduk hampir dua kali lipat (di Depok saja, sepuluh kali lipat jika ditambah penduduk Jakarta) penduduk di Nganjuk. Bukanlah hal yang mengherankan jika keramaian menjadi konsumsi sehari-hari. Transportasi umum yang tak pernah sepi, kendaraan pribadi yang selalu mengisi jalan raya selama 24 jam, orang-orang berjalan berlalu-lalang, semua jenis keramaian ada disini. Jalan yang lebar terasa sempit, ruang terbuka terisi oleh kebisingan manusia beserta mesin-mesin karyanya. Kalau kamu, orang
ndeso seperti aku, ingin jalan-jalan, jangan gunakan kendaraan pribadi kalau gabisa tahan emosi. Lebih baik gunakan KRL (Kereta Rel Listrik) yang ber-AC dan pastinya anti-macet. Tapi saat hari kerja, jangan coba-coba naik KRL arah Jakarta di pagi hari atau arah luar Jakarta di sore hari kalau gamau jadi salah satu buih di lautan manusia.
2. Panas yang Selalu Membuat Badanmu Bau Keringat
 |
| Copyright Google |
Dengan rasio jumlah area hijau lebih sedikit daripada manusia beserta karya-karyanya. Depok-Jakarta selalu membuat kita berkeringat meskipun diam saja. Tak ada pilihan pakaian yang nyaman disini selain kaos oblong. Kalau kamu ingin merasakan dingin disini, kamu harus bangun pagi dimana semua orang masih mencintai ranjangnya. Kurangnya produsen oksigen dan padatnya gas buang kendaraan bermotor menjadi penyebab utama panas tak mau lepas dari kota ini. Untung saja Kampus UI Depok merupakan area yang sangat hijau dan rindang, bagai oase di tengah padang pasir.
3. Salah Satu Penyebab Stres, Berisik
Masih berhubungan dengan poin 1 di atas. Karena padat, penduduk maupun kendaraan, sensor telingamu akan selalu bekerja keras. Suara orang berbincang-bincang, raungan mesin kendaraan, serta klakson yang saling bersautan ketika kemacetan melanda. Hingga malam pun, kamu akan mendengar obrolan dan tawa anak-anak muda yang lagi di warkop. Satu-satunya tempatku tenang disini adalah kamar kos, haha.
4. Liberal, Radikal, dan Ekstremisme
 |
| Copyright Google |
|
Liberal dan Radikal seyogyanya adalah kosa kata yang netral maknanya. Namun, praktiknya, istilah ini merujuk ke tindakan yang negatif. Ibukota negara, dibalik modernitas dan pemikiran yang maju, terdapat manusia manusia dengan tingkat pemikiran yang mutakhir. Manusia manusia yang tak ingin dikekang dalam berpikir, yang tak ingin dibungkam dalam bersuara. Yang menganggap agama dan kepercayaan adalah kuno, penghambat dalam proses berpikir modern. Di lain hal, ada juga yang menganggap agama dan kepercayaan sebagai dasar dalam melakukan tindakan, padahal pemahaman mereka tentang agama tak seberapa. Kebebasan berpendapat mungkin adalah simbol kemajuan dalam peradaban. Tapi kebebasan berpendapat tanpa dibarengi akal sehat adalah sesat. UI beberapa waktu lalu sempat dicap sebagai kampus bibit-bibit radikal. Aku tak heran karena setelah kuamati sendiri, orang-orang disini begitu bebas dalam berpikir dan bersuara. Kampus adalah tempat dimana pengaruh politik negara hampir nol, hal ini menjadi alasan mengapa para liberalis, radikalis, dan ekstremis menanam paham paham mereka. Karena bagaimanapun juga, senegatif apapun esensinya, semua bisa dianggap sebagai bahan ajar di lingkungan akademis. Bahan ajar yang akan menjadi bibit perusak bangsa jika tidak disikapi dengan bijak. Tips dariku adalah bergabung dengan lingkungan yang baik dan benar menurut agama dan pancasila karena keyakinan secara personal tidak akan cukup menjadi tameng.
5. Heterogenitas Membuat Proses Generalisasi Tidak Mudah
 |
| Copyright Google |
Ada Jawa, Sumatera, Sunda, sampai Papua. Bahkan penduduk Jakarta tidaklah didominasi oleh
inlander Jakarta. Orang Islam, Protestan, Katolik, Hindu, Buddha, Konghucu sampai agama yang cuma di KTP bisa ditemui semuanya di sini. Dari yang sudah berkulit putih namun masih pakai
make up sampai pake
make up pun tak akan putih ada disini. Dari yang suka nongkrong sampai yang misterius di kamar kos juga ada. Pola pikir yang agamis bertabrakan dengan liberalis sudah biasa. Generalisasi suatu golongan disini hanyalah sebuah stereotip yang belum tentu kebenarannya. Satu-satunya hal yang bisa digeneralisasi disini hanyalah plat nomor kendaraan bermotor.
6. Kuliner Itu Mitos
 |
| Copyright Google |
Aneka jenis makanan tentu ada disini. Tapi kalau kamu ingin menikmati semuanya, coba deh pikir pikir dulu. Harga makanan disini standarnya 2-3 kali lipat harga di daerah, khususnya Nganjuk. Belum lagi kalau kamu mau hedon, sok makan di mall, bisa 10-15 kali lipat satu porsinya. Cara hidup paling aman disini adalah masak sendiri, kalau gabisa masak coba masak nasi sendiri dan beli lauk di warteg yang relatif paling murah. Niscaya, kamu hanya akan keluarkan ceban atau 10 ribu per harinya. Itu semua belum termasuk harga beras dan air yang bisa dibeli setiap seminggu-sebulan sekali. Pesanku, kalau kamu ingin hidup tenang, kamu gak perlu makan enak, yang penting kebutuhan kalori terpenuhi.
7. Bagaikan Google, Segalanya Ada di Ibukota
Di Ibukota,
Mie Aceh, Rendang, Siomay, Batagor, Warung Tegal, Gudheg, Bakso Solo, Sate Madura, semua masakan Nusantara sampai
franchise Internasional tak akan sulit ditemui. Dari ojek pangkalan, ojek online, taksi,
commuter line, hingga bandara Internasional juga ada. Dari servis kipas angin sampai pabrik mobil juga tersedia. Di kampusku sendiri, UI, semuanya tersedia. Transportasi? Ada bis kuning, atau kalau mau olahraga ada sepeda kuning. Lapar? Setiap fakultas punya minimal satu kantin disini, atau kalau ingin praktis, ada
vending machine yang tersebar merata di lorong lorong bangunan. Ingin olahraga? Ada stadion kampus terbaik di seluruh negeri, serta ada lapangan di setiap fakultas. Kalau kurang, trotoar di UI cocok digunakan
jogging, silahkan keliling di kampus seluas 320 hektar. Rekreasi? UI punya enam danau, setiap jalanan dikelilingi pohon yang rindang. Hobi baca? Coba deh ke
Crystal of Knowledge, perpustakaan kampus terbesar se-Asia Tenggara. Dan masih banyak lagi yang bisa dieksplorasi disini.
 |
| Copyright Google |
Itulah beberapa hal yang menjadi pertimbangan ketika hidup di Ibukota Jakarta, khususnya UI. Semoga tulisan ini bisa bermanfaat dan berlanjut ke topik topik yang bermanfaat selanjutnya. Semoga sukses untuk kalian yang sedang memperjuangkan PTN idaman kalian, dan semoga kalian, teman-temanku di UI, bisa betah disini bersamaku, hehe. Salam Sukses untuk kita semua.
 |
| Perpustakaan "Crystal of Knowledge" Universitas Indonesia. Copyright Google |
Wassalaamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Comments
Post a Comment