Assalamu'alaikum wr.wb.
Salam sejahtera bagi kita semua
Selamat menunaikan Ibadah puasa di bulan yang suci ini bagi semua saudara-saudaraku sedunia.
Jadi, ceritanya aku punya sepeda gunung tipe XC(Cross Country, tipe sepeda untuk jalan-jalan di trek off-road ringan) bermerk Polygon, serinya premier, berwarna hitam-abu. Nah, karena premier itu berasal dari kata prime yang artinya utama, aku nobatkan sebuah nama berbahasa Arab untuk si premier ini, yaitu Wahid, yang artinya pertama, utama atau satu. Soalnya kan kita sebagai umat Muslim kalo memberi nama kan dianjurkan yang baik-baik, karena nama itu doa. Karena arti namanya adalah pertama, utama atau satu, doaku untuk wahid adalah selalu menjadi yang nomor satu buatku.
Oke, sebenarnya dulu itu Wahid bukanlah sepedaku, dia itu kepunyaan masku. Masku minta dibelikan sepeda itu sekitar dia masih SMP, dan waktu itu aku masih sekitar SD kelas 1-3. Tahun ini, 2018, aku lulus SMA. Jadi, dapat disimpulkan bahwa Si Wahid sudah berusia sekitar sepuluh tahun!! Dan alasan sepeda ini jadi milikku adalah karena masku merantau untuk kuliah. Secara otomatis, lengserlah hak milik ini karena aku lebih membutuhkan untuk berangkat sekolah, haha.
Masa SMP, tiap hari aku pake sepeda ini buat ke sekolah. Pernah dulu karena takut telat, jadinya ngebut dan pas belok akhirnya bertemulah dengan seorang pengendara motor. Bruk yang keras membuatku sadar bahwa aku telah mencium aspal dan velg belakang sepedaku bengkok haha... Setelah itu, aku tetep pake sepeda itu dengan kondisi yang membuat bergoyang di belakang. Beberapa hari setelah itu baru diperbaiki deh.
Masa SMA pun datang, aku sudah bisa naik motor. Seketika, aku jadi jauh sama Si Wahid. Meskipun begitu, aku tetep ajak jalan-jalan Si Wahid di Hari Minggu atau saat ada event sepeda santai, khususnya PEDHAL(Pedhahan Dhateng SMA Kalih), salah satu acara tahunan sekolahku tercinta, SMA Negeri 2 Nganjuk, untuk memeringati HUT sekolah. Kalian juga jangan lupa ikut PEDHAL ya, rame, seru, ada banyak stand-stand jajanan khas siswa/i, hadiahnya juga gk tanggung-tanggung lo, ada motor, sepeda gunung, kulkas, dan lain-lain. Sejak SMP pun aku sudah ikut event ini, tp belum pernah dapat apa-apa, kecuali pengalaman haha..
Saat akhir masa SMA dan setelah lulus, rasa sayangku sama Si Wahid ini semakin menjadi-jadi. Aku semakin suka ngajak dia jalan-jalan. Berangkat ke sekolah pun jadi sering ninggalin motorku dan lebih milih sama Si Wahid.
Rasa ini semakin menjadi-jadi setelah aku terinspirasi pengalaman dari Mas Dzofar, blogger asli Nganjuk yang paling hits, dengan kehidupan bersepedanya. Mas Dzofar itu kemana-mana pake sepeda. Katanya orang naik motor itu bikin males, dan lemah. Padahal dari yang kubaca di blognya, Mas Dzofar itu gabisa naik motor (kecuali matic). Tapi selain itu, beliau juga beralasan bahwa naik sepeda itu lebih menyehatkan dan ramah lingkungan, dan kalo dia pengen motor pun, mungkin akan pake motor listrik yang lebih ramah lingkungan, begitulah katanya. Mas Dzofar ini juga udah berpengalaman kemana-mana naik sepeda bro, dari Nganjuk-Kediri PP, offroad ke Ngetos, dan lain-lain. Salut deh sama kamu mas. Ini yang buatku terinspirasi untuk sepedahan lebih jauh.
Rasa cintaku pertama kuungkapkan saat aku melihat Si Wahid yang sudah karatan di bagian stang/handlebar. Akhirnya aku buka tabungan dan berniat untuk upgrade Si Wahid dari yang berstang 600mm ke stang 710mm. Setelah aku ajak jalan-jalan, ternyata enak dan lebih gk bikin pegel di tangan.
Setelah upgrade tipis itu, aku niat nyoba touring ke Ngluyu, sebuah Kecamatan terpencil di daerah Nganjuk Utara. Aku mau main ke rumah Mbahku disana. Aku berangkat habis Shalat Ashar,
sendirian. Yang paling gk enak adalah jalanan di daerah Mlorah, antara kecamatan Nganjuk dan Gondang. Jalanan di daerah Mlorah itu off-road tapi aspal, alias aspal rusak sepanjang beberapa kilometer. Karena Si Wahid ini tipenya hardtail alias gak ada suspensi belakang (cuma ada fork suspensi di depan), jadinya kerasa grendul-grendul pol di bagian dudukan. Setelah itu sampe Gondang dan masuk jalanan hutan. Waktu udah jam lima sore, sebentar lagi surup (lembayung senja) dan kiri kananku masih hutan lebat. Saat jalanan naik pun aku gk kuat medal, aku tuntun deh sampe kuat lagi. Jalanan udah gk naik lagi, tp suasana ws peteng bro. Setelah masuk maghrib akhirnya aku sampe di pedesaan Ngluyu, tp sayangnya rumah Mbahku masih jauh ke utara dan agak naik lagi. Akhirnya nyampe deh dalam waktu satu setengah jam, padahal kalo naik motor itu satu jam. Simpulannya sepedahan itu gk selalu lambat bro, kalo mau ngebut..
Selain ke Ngluyu, aku sama Wahid juga udah pernah ke beberapa tempat keren di Nganjuk lo. Contohnya di Kali Baduk, Bukit Cinta, Hutan Pinus Plangkat, dan lain-lain. Tapi, sayangnya Si Wahid belum pernah naik gunung, meskipun namanya sepeda gunung.
Nih, foto-foto gantengnya Si Wahid
 |
| Kali Baduk, Tanjunganom, Nganjuk |
 |
| Kali Baduk, Tanjunganom, Nganjuk |

Ride Your Bike!
Wassalamu'alaikum wr.wb.
Salam sejahtera bagi kita semua
Comments
Post a Comment