Pengumuman SBMPTN 2018! Resmi Jadi Mahasiswa

Assalaamu'alaikum wr.wb.
Salam sejahtera bagi kita semua
Semoga kalian sehat selalu dan berlimpah rezeki yang penuh keberkahan


3 Juli 2018, Pukul Empat Sore

Aku bangun dari tidur siangku. Aku salat Ashar sambil berdoa untuk pengumuman yang segera aku hadapi. Awalnya, jadwal pengumuman adalah jam 17.00 hari ini tepi entah kenapa pihak SBMPTN membuat jadwal lebih cepat daripada yang dijadwalkan sebelumnya, yaitu jam 15.00. Padahal, rencananya aku mau itikaf dulu di masjid dan buka pengumuman habis maghrib, biar manteb gitu. Tapi bukan cuma aku yang mengharapkan pengumuman itu. Ibuku juga tidak sabar menanti apa hasil kerja kerasku selama ini. 

Kuambil komputer jinjingku dan duduk di ruang tengah. Ibuku disamping kananku. Ayah berada di kursi lain di kanan ibu. Aku sambungkan koneksi internet. Aku ketikkan alamat pengumuman SBMPTN di peramban web. Aku masukkan nomor peserta SBMPTNku beserta tanggal lahir untuk mengakses pengumuman tersebut. Kursor sudah kuarahkan di tombol yang akan menampilkan masa depanku. Tinggal satu klik lagi dan aku akan tahu kepastian kerja kerasku. Sebelumnya, aku berselawat bersama kedua orangtuaku, berharap akan keputusan yang terbaik. Bismillahirrahmaanirrahiim dan klik...


Ya, bukanlah Kampus Gajah Duduk yang tampil namun Perguruan tinggi terbesar serta tertua se-Indonesia, pilihan keduaku di SBMPTN tahun ini. Aku merasakan aliran darahku memuncak selama beberapa detik dan aku bernapas lega. Aku bersama ibu dan ayah langsung mengucap puji dan syukur pada Allah, Tuhan seluruh alam. Ibuku memelukku dan meneteskan air mata haru. Dan anehnya, aku merasa sangat bahagia. Memang bukan ini tujuan utamaku. Aku dari dulu ingin ITB dan selalu berdoa untuk ITB. Tapi entah kenapa aku begitu lega dan bahagia serta langsung mengikhlaskan segala harapanku pada Gajah Duduk, terutama setelah ibu memelukku.

Setelah itu, aku langsung memberi kabar keluarga besarku, guru-guruku, dan kawan-kawanku. Semuanya memberi selamat kepadaku dan membuatku semakin menerima dengan kegembiraan yang tak terkira. Selain itu, ternyata banyak juga temanku yang belum beruntung. Aku merasa kasihan sekaligus beruntung. Allah memberiku jalan yang terbaik yang tak pernah kuperkirakan. Aku bersyukur karena pilihan pertama adalah pilihanku, dan pilihan lain adalah pilihan yang Allah pilihkan untukku. Bayangkan saja, Tuhan yang menguasai seluruh alam, memilihkan jalan untukku, bukankah itu jalan yang terbaik?

Mungkin inilah perwujudan doa yang tak pernah terucap. Dulu, waktu masku masih kuliah, di UI juga dan jurusan yang sama denganku juga. Aku sering berkunjung ke UI. Aku sering merasakan atmosfer para pendamba ilmu. UI bukanlah tempat yang asing lagi buatku saat itu. Mungkin dari waktu itu, Allah sudah perkenalkan padaku pada masa depanku. Dan yang mengejutkan adalah, dulu aku pernah dibelikan tempat pensil bersablon Universitas Indonesia oleh mbakku seharga lima belas ribu rupiah kalau tidak salah, dan sampai sekarang, aku masih menggunakan tempat pensil itu meskipun sablonnya sudah hilang seluruhnya. Mungkin itu juga bagian dari doa yang tak terucap. Aku selalu menggunakan tempat pensil itu untuk menuntut ilmu, salah satu amal yang dicintai Allah. Allah mungkin ingin membawa tempat pensil itu ke kampung halamannya bersamaku hahaha...

Antropologi Sosial, ilmu yang tidak umum. Tidak banyak orang tahu. Namanya aneh. Bukan pilihan utamaku. Tapi setelah aku telusuri lebih lanjut, ternyata ilmu yang kupilih karena dulu aku ingin ikut-ikutan masku ini cocok juga denganku. It's all about humanities. Ilmu yang mempelajari seni, budaya, bahasa, etnis, kebiasaan, dan segalanya dari kehidupan manusia. Ternyata sebelum ini aku juga telah tertarik dengan ilmu ini tanpa tahu ilmu apa itu. Aku yang mencintai ilmu bahasa, aku yang suka travelling untuk bertemu berbagai jenis kehidupan manusia di luar sana, aku yang senang dengan kesenian dan keragaman budaya, aku yang suka baca buku. Semua fakta tentang diriku cocok dengan ilmu ini. Jadi, tidak ada alasan untuk tidak suka, meskipun awalnya cuma ikut-ikutan

Mungkin beberapa dari kalian bertanya : "Emangnya udah puas ya keterima bukan pilihan utama?", "Bukannya mimpi mas itu ITB ya?", "Nggak coba ITB lagi tahun depan mas?", Memang sih, waktu itu aku sangat berambisi buat ngejar ITB. Aku rela jauh jauh kesana, jalan kesana kemari sendirian. Selama tiga hari memperjuangkan mimpiku disana. Benar benar sendirian. Berbekal niat dan rida orangtua. Melihat anak anak kota sana yang membuatku down namun aku tetap melangkah. Dan semua pertanyaan keraguan itu akan kujawab dengan satu jawaban : "Ibu sudah menangis bahagia". Apakah ada yang lebih baik dari rida seorang wanita yang mengandung kita selama sembilan bulan?

Syukur Alhamdulillah yang tak terkira selalu kuucapkan. Untuk kalian, teman-temanku yang belum beruntung. Ingatlah, Allah selalu melihat kerja keras kalian. Semua orang memiliki zona waktunya sendiri untuk sukses. Tak ada yang lebih dulu, begitupun tak ada yang terlambat untuk kesuksesan. Untuk masku, terima kasih telah memotivasiku untuk bekerja keras. Untuk ayah, ibu, teman-teman dan keluarga semuanya, terima kasih sudah mendoakan saya dan menjadi alasan saya untuk giat belajar. Terima kasih, saya sudah jadi mahasiswa sekarang.


Wassalaamu'alaikum wr.wb.
Salam sejahtera bagi kita semua
Semoga kalian sehat selalu dan berlimpah rezeki yang penuh keberkahan

Comments

Popular posts from this blog

SBMPTN FSRD ITB di Bandung part 2

Starting The Journey

Hidup di UI Bikin Culture Shock! Nomor 4 Mencengangkan!