Wahid, Selamat Jalan

Assalaamu'alaikum wr.wb.
Salam sejahtera bagi kita semua
Semoga kalian sehat selalu dan berlimpah rezeki yang penuh keberkahan

Malam 27 Ramadhan 1439, atau tanggal belasan awal Juni 2018

Pagi itu, aku pulang bermalam dari Masjid Jami' Baitussalam Nganjuk. Aku pulang bersama Wahid, sepeda kesayanganku. Sampai di rumah, Masku yang beberapa hari lalu baru
sampai mudik memintaku untuk gantian mengendarai Si Wahid. Masku ingin bersepeda, katanya. Kuserahkan Si Wahid padanya, lalu aku berbaring di ranjangku dan beristirahat di pagi yang dingin itu.

Tak lama setelah aku tertidur, Masku pulang dan tiba tiba bertanya padaku,"Butuh sepedah po ra?". Aku yang baru terbangun merasa agak kaget dan aneh dengan pertanyaan itu. Akhirnya, masku menjelaskan kalau sepedahku baru saja kemalingan. I'm shocked at moment. Tapi aku hanya menanggapi,"Yowes, rejekine wong", sambil terpikir berbagai kenanganku bersama Si Wahid yang selalu menemaniku dan membuatku good mood.

Berdasarkan penjelasan masku, kejadian itu terjadi di Alun-Alun Nganjuk. Masku habis bersepeda dari Berbek dan berhenti serta memarkir sepedanya di sisi barat alun-alun. Dia masuk ke alun-alun jalan kaki. Setelah kembali, sepeda itu sudah tidak ada di tempat itu. Yang membuat masku heran adalah, padahal di situ ada beberapa sepeda lain yang diparkir, dan mungkin ada sepeda yang lebih bagus yang lebih layak di mata maling. Masku langsung saja menuju Polsek Nganjuk di utara alun-alun dan melaporkan kejadian tersebut. Masku agak kecewa dengan pernyataan polisi di situ mungkin karena pernyataan dari polisi yang tidak profesional berhubung kejahatan yang terjadi barusan adalah skala minor. Jadi, mungkin pak polisi tadi tidak terlalu menghiraukannya. Kata pak polisi, kalaupun si maling tertangkap, hukumannya cuma penjara beberapa hari, karena barang curian bernilai tidak lebih dari 2,5 juta. Tapi ya sudahlah, masku terima apa saja yang dituturkan polisi tadi. 

Aku yang baru saja terbangun dari tidurku langsung beranjak dari tidurku karena aku ingat satu acara religi di televisi yang menjelaskan perilaku kita saat kehilangan sesuatu yang berharga. Di acara tersebut, dijelaskan bahwa hal yang pertama kali harus dilakukan adalah salat sunah dua rakaat dan berdoa pada Allah tentang apa yang terjadi. Aku ambil air wudhu untuk bersuci sebelum salat. Aku laksanakan salat dua rekaat itu dan mencurahkan seluruh perasaanku pada Tuhanku Yang Maha Mengatur Rezeki. Hal yang perlu diingat adalah Allah, Tuhan seluruh alam, yang memiliki segalanya di alam semesta ini, yang mampu mengatur, memberi serta mengambil rezeki terhadap hambaNya dengan tujuan dan rencanaNya yang terbaik.

Setelah berdoa, barulah kita dituntut untuk ikhtiar atau berusaha. Salah satu usaha yang bisa kulakukan waktu itu adalah menyebar berita kehilangan itu di akun Instagramku. Aku memilih usaha seperti itu karena ada suatu kejadian orang yang kehilangan motornya, jenis motor gede. Dia sebar berita kehilangan itu lewat Instagram. Pengaruh media sosial sungguh ajaib. Ratusan warganet saling menanggapi dan menyebarkan kabar. Dan yang lebih ajaib adalah motor itu dimaling di Jakarta tapi maling membawanya sampai ke Yogyakarta. Maling dapat ditangkap karena bantuan dari ratusan warganet tadi yang selalu aktif menyebarkan kabar. Aku belajar dari kejadian itu. Aku memakai metode ini dan mengharapkan keberhasilan yang sama dengan kejadian motor di atas.
Wahid dimaling

Baru saja aku posting berita itu, satu per satu kawanku mulai menyebarkan berita itu. Tidak hanya kawan, akun-akun official seperti @nganjukkotabayu, @infonganjuk, @gowesnganjuk yang punya ribuan followers juga me-repost berita yang kusebar. Hatiku semakin terasa lega karena banyak orang -orang baik di sekitarku yang membantuku dengan ikhlas. Ada juga mas-mas yang tidak kukenal memberi kabar bahwa ada iklan jual sepeda yang dipasang beberapa jam setelah sepedaku hilang di grup di Facebook yang katanya mirip sepedaku. Aku langsung berterimakasih. Meskipun begitu, setelah kucari, iklan itu tidak ada. Mungkin aku yang kurang teliti mencari, mungkin juga mas-mas itu yang salah lihat. 

Sudah dua hari, berita yang kusebar masih saja bergentayangan di setiap sosial media yang kupunya. Tak ada tanda-tanda keberadaan Si Wahid. Aku sedih bercampur bahagia. Aku bahagia karena ternyata banyak sekali orang-orang yang baik terhadapku yang mungkin selama ini aku bersikap acuh terhadap mereka. 

Puisi untuk Wahid
Untuk kalian semua yang telah membantu, saya ucapkan begitu banyak terima kasih. Semoga kaliann selalu dilimpahi rezeki yang melimpah dengan penuh keberkahan. Dan untuk maling yang sudah mengambil kesayanganku, saya sudah ikhlaskan semuanya. Saya sadar bahwa Anda lebih membutuhkan sesuatu daripada saya. Saya sudah maafkan semua kejahatan Anda. Semoga Anda diampuni dan diberi rezeki yang melimpah dengan penuh keberkahan. Terima kasih sudah membantu saya menyadari bahwa saya terlalu banyak dosa.

Wahid, meskipun aku bukanlah yang pertama kali untukmu namun cerita kita adalah yang paling terkenang. Sepuluh tahun lebih aku bersamamu. Tak pernah sekalipun aku mencacimu. Kau yang membawaku ke tempat-tempat yang menyejukkan mata serta hatiku. Kau salah satu yang memberiku pelajaran berharga di hidup ini. Selamat jalan.

Wassalaamualaikum wr.wb.
Salam sejahtera bagi kita semua



Comments

Popular posts from this blog

SBMPTN FSRD ITB di Bandung part 2

Starting The Journey

Hidup di UI Bikin Culture Shock! Nomor 4 Mencengangkan!